Tokyo

Kota pertama yang kami kunjungi di Jepang, Desember 2016

Hal yang sangat lumrah ketika kita mengunjungi suatu negara adalah mengunjungi ibukota negara tersebut. Dengan rute penerbangan yang paling gampang dicari dan harga tiket yang biasanya lebih murah. 

Bandara Haneda Tokyo


Begitulah, dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia, kami menjejakkan kaki di bandara Haneda. Kami mengambil red-eye flight, dengan harapan dapat menghemat waktu. Sehingga, ketika kami tiba di Tokyo pagi hari, kami bisa langsung ke penginapan, menyimpan barang dan lanjut jalan-jalan. 

Eits, tidak semudah itu, fulgosso. Rencana tinggallah rencana. Kami baru selesai cek imigrasi pukul sepuluh. Selesai ambil bagasi, clingak clinguk di bandara sambil mencari info yang memakan waktu sejam. Perjalanan ke penginapan plus cari jalan dan kesasar juga memakan waktu yang kurang lebih sama. Sehinggga, kami baru tiba pukul duabelas siang, saat perut meminta jatah isian.

Sesampainya di hotel, kami menyimpan barang. Kemudian kami keluar lagi menuju kombi untuk mencari bento yang moeslim friendly atau setidaknya bisa dimakan muslim. Kami kembali ke hotel, makan, dan  bebersih. Laluuuu apakah kami langsung jalan-jalan? Tentu tidak. Kami memilih untuk tidur 😁 Kami tertidur hingga pukul empat sore, lalu bangun dan menikmati matahari tenggelam. Ya, matahari cepat tenggelam di musim dingin. Jam lima sore sudah seperti jam tujuh malam.

Tokyo Dome illumination


Karena masih ingin memanfaatkan waktu yang tersisa di hari pertama, kami keluar  ke jalanan Tokyo yang sangat cantik dihiasi iluminasi yang biasanya hanya ada di musim dingin, sambil mencari makan malam di Tokyo yang semakin dingin.

Comments

Popular posts from this blog

Desember 2016

Haneda atau Narita?